Senin, 28 Oktober 2013

Ke-NU-an

Makna Salaf
•Secara etimologi, salaf memiliki makna person atau golongan yang telah mendahului kita. (Al-’Ain, karya Imam Al-Khalīl)

•Penggunaan ini bisa kita temukan dalam QS. Az-Zukhruf/ 43: 56 

فَجَعَلْنَاهُمْ سَلَفًا وَمَثَلًا لِلْآخِرِينَ

dan Kami jadikan mereka sebagai pendahulu (sebagai pelajaran) dan contoh bagi orang-orang yang kemudian.”

•Dalam Ḥadis penggunaan kalimat salaf dapat kita temukan dalam riwayat Imam Muslim tentang bisikan Rasulullah SAW kepada putrinya menjelang wafat:

إنك أول أهلي لحوقا بي، ونعم السلف أنا لك

Engkau adalah yang pertama dari keluargaku yang menyusul diriku, dan sebaik-baik salaf adalah aku bagi dirimu.”
 
Terminologi Salaf

•Salaf adalah umat Islam era tiga kurun pertama yang agung, yakni generasi sahabat, tābi’īn, dan atbā’i at-tābi’īn.

•Salaf juga berarti para pengikut madzhab Ḥanbalī yang muncul pada kurun ke empat, yang mengklaim diri sebagai pengikut Aḥmad bin Ḥanbal, kemudian muncul kembali pada kurun ke tujuh dipimpin oleh Ibn Taimiyyah, lalu muncul dengan kuat pada kurun ke dua belas oleh Syekh Muḥammad bin Abdul Wahhāb di Jazirah Arabia.

•Salaf digunakan pula untuk menunjuk kepada gerakan pembaharuan modern yang dibawa oleh Jamāluddîn Al-Afghānī dan Muḥammad ‘Abduh, yang keduanya juga mengusung salafisme sebagai simbol gerakan.

•Terakhir salaf juga berarti pengikut salafisme jihadistik yang dipimpin oleh semisal Ben Laden.

•Di Indonesia, berbeda dari itu semua salafiyyah berarti tradisionalisme. Pesantren Salaf adalah pesantren tradisional.
 
Lahirnya “Salafisme” Sebagai Madzhab

خير أمتي القرن الذين يلوني، ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم

Sebaik-baik umatku adalah mereka yang hidup di kurun setelahku, lalu mereka yang (hidup di kurun) susudahnya, lalu mereka yang (hidup di kurun) sesudahnya.” HR. Muslim

•Ḥadis ini menjadi pijakan tiap muslim untuk berintisab kepada salaf. Salafisme dengan demikian menjadi “milik umum”, bukan sebuah maẓhab yang bisa diklaim per-kelompok.

•Al-Baghdādī (w. 429) dalam Al-Farq Bain al-Firaq, Ibn Ḥazm (w. 456) dalam al-Fashl al-Milal wa an-Niḥal, dan Asy-Syuhrastānī (w. 548) dalam Al-Milal wa an-Niḥal, tidak menyebut salafiyyah sebagai maẓhab.

•Ada riwayat dari ‘Umar bin ‘Abdul ‘Azīz (w. 101) tentang Qadha dan Qadar, yang mengarah kepada maẓhab salafiyyah:

فارض لنفسك ما رضي به القوم لأنفسهم فإنهم على علم وقفوا، وببصر نافذ كفوا، وإنهم على كشف الأمور كانوا أقوى، وبفضل ما كانوا فيه أولى، فإنهم هم السابقون.

•Akan tetapi juga ada riwayat dari Ḥasan al-Baṣrī (w. 110), sosok yang banyak dianggap memiliki kecenderungan rasionalistik, yang mengarah kepada paham kebalikannya, juga menyangkut masalah qadha dan qadar:

 لم يكن أحد في السلف يذكر ذلك ولا يجادل فيه لأنهم كانوا على أمر واحد، وإنما أحدثنا الكلام فيه لما أحدث الناس من النكره له. فلما أحدث المحدثون في دينه ما أحدثوه أحدث الله للمتمسكين بكتابه ما يبطلون له المحدثات ويحذرون به من المهلكات.

•Juga riwayat dari Imam ‘Alī kw:

لعَلَّكَ ظَنَنْتُ قَضَاءً لاَزِماً، وَقَدَراً حَاتِماً! وَلَوْ كَانَ ذلِكَ كَذلِكَ لَبَطَلَ الثَّوَابُ والْعِقَابُ، وَسَقَطَ الْوَعْدُ وَالْوَعِيدُ. إِنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ أَمَرَ عِبَادَهُ تَخْيِيراً، وَنَهَاهُمْ تَحْذِيراً، وَكَلَّفَ يَسِيراً، وَلَمْ يُكَلِّفْ عَسِيراً، وَأَعْطَى عَلَى الْقَلِيلِ كَثِيراً، وَلَمْ يُعْصَ مَغْلُوباً، وَلَمْ يُطَعْ مُكْرِهاً، وَلَمْ يُرْسِلِ الانبِيَاءَ لَعِباً، وَلَمْ يُنْزِلِ الكُتُبَ لِلْعِبَادِ عَبَثاً، وَلاَ خَلَقَ السَّماوَاتِ وَالارضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِلاً، (ذلِكَ ظَنُّ الَّذِينَ كَفَرُوا فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ كَفَرُوا مِنَ النَّارِ)

•Akan tetapi tampaknya kecenderungan pertama lebih mengemuka, utamanya setelah menguatnya model pemahaman Imam Mālik di Madinah dan Al-Awzā’ī di Syam, lalu memuncak tatkala Imam Aḥmad bin Ḥanbal memposisikan diri sebagai tokoh yang siap jadi martir melawan arogansi Mu’tazilah.

•Peristiwa miḥnah khalq al-Qur`ān membawa Imam Aḥmad ke pucuk pimpinan Ahlussunnah berhadapan dengan Mu’tazilah, dan menjadikan maẓhabnya sebagai maẓhab sunni yang dinisbatkan kepada salaf, dengan meminggirkan kecenderungan “sunni lain” yang dipelopori oleh Ḥasan al-Baṣrī.

•Saat itulah mulai terjadi kristalisasi maẓhab Imam Aḥmad sebagai maẓhab salaf, utamanya melalui pernyataannya yang terkenal:

لست بصاحب كلام، ولا أرى الكلام في شيء من هذا إلا ما كان من كتاب الله أو في حديث عن النبي صلى الله عليه وسلم أو عن الصحابة، فأما غير ذلك فإن الكلام فيه غير محمود.

•Puncaknya adalah tatkala fanatisme Ḥanabilah menggila pada era Al-Barbahārī (Abu Muḥammad Ḥasan bin ‘Alī bin Khalaf), pimpinan Ḥanabilah di Baghdād (w. 328, menulis buku akidah “Syarh Sunnah.”), dan Ibn Baṭṭah (w. 387, penulis buku “Al-Ibānah ‘an Syarī’at al-Firqah an-Nājiyah”).

•Pada saat maẓhab Ḥanbalī memuncak di bawah pimpinan Al-Barbahārī, Imam Abul Ḥasan al-Asy’arī (w. 324) meninggalkan Mu’tazilah menuju Ahlussunnah. Tak ada pilihan lain bagi Imam Asy’arī selain mendekat kepada maẓhab Ḥanbalī. Dalam sebuah riwayat, dia “sowan” kepada Al-Barbahārī, lalu menulis bukunya yang sangat dekat kepada maẓhab Ḥanbalī, “Al-Ibānah ‘an Uṣūl ad-Diyānah”, yang di dalam mukaddimahnya dia mengatakan:

قولنا الذي نقول به وديانتنا التي ندين بها التمسك بكتاب الله ربنا عز و جل وبسنة نبينا محمد صلى الله عليه وسلم وما روى عن السادة الصحابة والتابعين وأئمة الحديث ونحن بذلك معتصمون وبما كان يقول به أبو عبد الله أحمد بن محمد بن حنبل - نضر الله وجهه ورفع درجته وأجزل مثوبته - قائلون ولما خالف قوله مخالفون لأنه الإمام الفاضل والرئيس الكامل الذي أبان الله به الحق ودفع به الضلال وأوضح به المنهاج وقمع به بدع المبتدعين وزيع الزائغين وشك الشاكين فرحمة الله عليه من إمام مقدم وجليل معظم وكبير مفهم
 
Kudeta Damai” Abul Ḥasan al-Asy’arī

•Ketika Imam Asy’arī memeluk sunni, dia hanyalah pengikut maẓhab Ḥanbali di bawah bayang-bayang Al-Barbahārī. Akan tetapi tampaknya fanatisme buta Ḥanabilah tak memuaskan rasa teologis masyarakat. Masyarakat membutuhkan “jalan tengah” yang luwes dan tidak rigid seperti dipertontonkan oleh Ḥanabilah generasi Al-Barbahārī.

•Fase berikutnya adalah saat Imam Asy’arī “merevisi” akidahnya demi menjawab kebutuhan masyarakat untuk keluar dari kekakuan model Al-Barbahārī. Maka disusunlah buku yang lain, “Istiḥsān al-Ḥaudhi Ilm al-Kalām” yang lebih dekat kepada pendekatan-pendekatan Ḥasan al-Baṣrī.

•Terobosan-terobosan Imam Asy’arī diterima dengan baik oleh masyarakat luas, sehingga lambat laun mengangkatnya menjadi Imamu Ahlussunnah menggantikan dominasi Ḥanabilah.

•Puncak kemapanan teologi sunni model Imam Asy’arī adalah tatkala Perdana Menteri Niżām al-Mulk mendirikan madrasah Niżāmiyyah di Baghdād pada tahun 459 H. yang melahirkan tokoh-tokoh sekaliber Imam al-Ḥaramain (w. 478), Imam al-Ghazālī (w. 505), Imam Abū Isḥāq Asy-Syairāzī (w. 476), dsb. 

•“Kudeta” ini sangat tidak menyenangkan Ḥanabilah. Sejumlah ketegangan terjadi dalam pentas sejarah antara Asyā’irah dan Ḥanābilah. Di antara yang terkenal adalah kasus terusirnya Imam al-Ḥaramain dan fitnah antara Ibn al-Qusyairī (w. 514) dan Abū Ja’far al-’Abbāsī. Buku Imam Qusyairī dalam bidang taṣawwuf, Ar-Risālah al-Qusyairiyyah”, menjadi catatan-catatan atas upaya meredam kemarahan Ḥanābilah.

•Ketidak-puasan ini kemudian berlanjut pada abad ke tujuh dengan lahirnya Ibn Taimiyyah (w. 726 H.), dan pada abad ke dua belas melalui kemarahan Muḥammad bin ‘Abdul Wahhāb (w. 1206 H.) yang di kemudian hari terkenal sebagai pendiri paham Wahhabisme.
 
Fase-fase Salafisme

•Pada awal mulanya, Islam adalah satu. Semua merujuk kepada Nabi Muhammad SAW. Pengkotakan secara teologis tak dikenal. Akan tetapi sejarah umat Islam memunculkan banyak pertikaian dan fitnah, utamanya dalam wilayah politik. Selain itu, perkembangan Islam ke wilayah-wilayah non-Arab juga berdampak yang luas tidak saja pada ranah sosio-politik, tapi juga pada ranah teologis.

•Sejumlah pertanyaan muncul, baik yang berkenaan dengan fikih dan politik, maupun yang menyangkut teologis. Dalam menanggapinya, para sahabat tak lagi satu. Ada model “mencari selamat” seperti ‘Umar bin Khaṭṭāb, Zaid bin Ṡābit, dan ‘Abdullāh bin ‘Umar. Ada pula model “melakukan ibadah” melalui ijtihād, seperti ‘Alī bin Abī Ṭālib, Ibn ‘Abbās, dan Ibn Mas’ūd.

•Generasi Tābi’īn mengikuti generas Sahabat. Sebagian ada di gerbong pertama seperti Sufyān Aṡ-Ṡaurī, Ibn ‘Uyainah, dan Mālik bin Anas, dan sebagian lainnya ada di gerbong kedua seperti Al-Ḥasan al-Baṣrī dan Abū Ḥanīfah.

•Peristiwa miḥnah khalq al-Qur`ān  melahirkan dominasi “model selamat” dengan pimpinan Imam Aḥmad bin Ḥambal, seperti di bahas sebelumnya. Imam Aḥmad bin Ḥambal berikut pengikutnya dengan demikian adalah generasi awal maẓhab Salafiyah.

•Setelah mengalami kekalahan dari moderatisme a la “Asy’ariyah”, salafiyah menguat kembali dengan lahirnya Ibn Taimiyyah dan murid-muridnya. Mereka ini adalah Salafiyah generasi kedua (tengah). Salafiyah generasi kedua ini tak cukup kuat menyaingi moderatisme Asyā’irah, karena terlalu kuatnya dominasi kelompok terakhir ini.

•Pada abad ke dua belas lahir Salafiyah generasi ketiga (terakhir) yang sangat kuat di semenanjung Arabia, dan kemudian menguat di pentas internasional berkat sokongan petro-dolar. Moderatisme a la Asy’ariyah sempoyongan menghadangnya karena mereka juga mendapat serangan dari salafiyah pembaharuan model Jamāluddīn al-Afghānī dan Muḥammad ‘Abduh.
 
Strukur Teologi Salafisme

•Meletakkan standard kebenaran pada generasi awal Islam:

–Rasul dan sahabat (pada era Aḥmad bin Ḥanbal: “ittibāadalah mengikuti semua yang datang dari Nabi Muhammad dan dari sahabat-sahabatnya, kemudian seseorang dipersilahkan memilih dalam hal berhadapan dengan pendapat-pendapat tābi’īn.” I’lām al-Muwaqqi’īn).

–Rasul, sahabat, tābi’īn, atbā’ attābi’īn, dan segenap imam-imam ahlil Ḥadīṡ. Ismā’īl Aṣ-Ṡābūnī dalam bukunya, Aqīdah as-Salaf wa Aṣḥāb al-Ḥadīṡ, mengatakan: “teman-teman saya meminta kepada diriku untuk menulis beberapa pasal tentang pokok-pokok agama yang menjadi pegangan para imam-imam agama dan ulama-ulama Islam yang telah lampau, dan para as-salaf aṣ-ṣāliḥ.”

–Pernyataan lebih tegas datang kemudian dari Ibn Taimiyyah:

ومن المعلوم بالضرورة لمن تدبر الكتاب والسنة، وما اتفق عليه أهل السنة والجماعة من جميع الطوائف، أن خير قرون هذه الأمة في الأعمال والأقوال، والاعتقاد وغيرها من كل فضيلة أن خيرها القرن الأول، ثم الذين يلونهم، ثم الذين يلونهم، كما ثبت ذلك عن النبي صلى الله عليه وسلم من غير وجه، وأنهم أفضل من الخلف في كل فضيلة من علم، وعمل، وإيمان، وعقل، ودين، وبيان، وعبادة، وأنهم أولى بالبيان لكل مشكل . هذا لا يدفعه إلا من كابر المعلوم بالضرورة من دين الإسلام، وأضله الله على عِلْم. مجموع فتاوى ابن تيمية

–Pada dekade-dekade akhir ini, keinginan untuk mengikuti semua hal yang bertalian dengan as-salaf aṣ-ṣāliḥ semakin menjadi. Yūsuf al-Qardhāwī menceritakan, di Islamic Centre di Amerika terjadi perdebatan dan kegaduhan yang tajam hanya karena hadirin pengajian Sabtu dan Ahad duduk di kursi, tidak bersimpuh di atas alas tikar atau sejadah, dan mereka memakai pantalon bukan jalabiyah, juga mereka makan di atas meja tidak duduk di tanah. semua ini hal yang tak dicontohkan oleh as-salaf aṣ-ṣāliḥ. (Aṣ-Ṣaḥwah al-Islāmyyah Baina al-Jumūd wa at-Taṭarruf)

•Pondasi teologinya adalah pemahaman literal terhadap naṣ-naṣ al-Qur`an dan sunnah, dan penolakan terhadap ta`wil.

-Generasi awal dari Salafiyyah memilih model tafwīdh dalam memahami naṣ-naṣ al-Qur`ān dan Sunnah tentang sifat-sifat Allah SWT, yakni iman kepada lafal dan menyerahkan maknanya secara penuh kepada Allah SWT. Pernyataan Imam Mālik yang terkenal:

الاستواء غير مجهول ، والكيف غير معقول ، والإيمان به واجب ، والسؤال عنه بدعة. ( ذم التأويل لابن قدامة المقدسي الحنبلي )

Model tafwīdh demikian sangat jelas dalam pernyataan Sufyān bin ‘Uyainah:

كلما وصف الله من نَفسه فِي كِتَابه فتفسيره تِلَاوَته وَالسُّكُوت عَلَيْه. وفي رواية: مَا وصف الله بِهِ نَفسه فتفسيره قِرَاءَته لَيْسَ لأحد أَن يفسره إِلَّا الله تَعَالَى وَرُسُله صلوَات الله عَلَيْهِم. الدر المنثور

-Model tafwīdh demikian pada perkembangan berikutnya berubah—karena salah memahami—menjadi iman terhadap makna literal, hal yang melahirkan generasi mujassimah. Al-Maqdisī memberi komentar:

و أما البربهارية فإنهم يجهرون بالتشبيه و المكان و يرون الحكم بالخاطر و يكفرون من خالفهم. ( البدء والتاريخ)

-Generasi mujassim dari Salafiyyah ini mendorong sebagian tokoh Asy’ariyyah, yang pijakan dasar teologisnya menerima maẓhab tafwīdh dan maẓhab ta`wiī, mengatakan bahwa untuk hal-hal tertentu ta`wil sangat diperlukan. (Fakhruddīn ar-Rāzī, Asās at-Taqdīs)

-Dengan segala kritik yang dialamatkan kepada generasi ini, Ibn Taimiyyah justru mendukungnya dengan sekuat tenaga, melalui konsepnya bahwa tidak ada majaz dalam kalām Allah, semua yang kalimat dan lafal di dalamnya adalah haqiqah. Kata Ibn Taimiyyah:

ومذهب السلف : أنهم يصفون الله بما وصف به نفسه وبما وصفه به رسوله من غير تحريف ولا تعطيل ومن غير تكييف ولا تمثيل ونعلم أن ما وصف الله به من ذلك فهو حق ليس فيه لغز ولا أحاجي؛ بل معناه يعرف من حيث يعرف مقصود المتكلم بكلامه؛ فكما نتيقن أن الله سبحانه له ذات حقيقة وله أفعال حقيقة : فكذلك له صفات حقيقة وهو ليس كمثله شيء لا في ذاته ولا في صفاته ولا في أفعاله. مجموع الفتاوى

Ibn Taimiyah mengutip dari Ibn ‘Abdul Barr:

أهل السنة مجمعون على الأقرار بالصفات الواردة كلها في القرآن والسنة، والإيمان بها، وحملها على الحقيقة، لا على المجاز، إلا أنهم لا يكيفون شيئًا، ولا يحدون فيه صفة محصورة. مجموع الفتاوى

Protestantisme, dengan melakukan takfīr dan tabdī.

-Kufr adalah tidak mempercayai sesuatu yang seharusnya diimani. (At-Taftāzānī, Syarh al-Maqāṣid). Imam Ar-Rāzī berpendapat tidak diperbolehkannya mengkafirkan ahl al-qiblah, karena Rasulullah tidak pernah men-taftisy akidah-akidah umat Islam. Bahkan jika seseorang mengucapkan sesuatu yang berkonsekuensi kepada kekufuran akan tetapi dia tidak menyatakannya maka tidak boleh dihukumi kafir. begitu pula jika pernyataannya disertai dengan ta`wil, walau jelas kebatilannya, dia juga tak boleh dihukumi kafir.

-Imam Al-Asy’arī menandaskan, bahwa umat Islam berselisih pendapat dalam banyak hal setelah wafatnya sang Nabi SAW, sebagian di antara mereka menyesatkan yang lain, dan menyatakan tak bertanggungjawab atas yang lain. Maka mereka terbagi ke dalam kelompok-kelompok yang berbeda, akan tetapi mereka tetap disatukan oleh Islam. (Maqālāt al-Islāmiyyīn)

-Riwayat dari Imam Malik bahkan lebih tegas lagi: “jika seseorang memiliki kemungkin kafir dari sembilan puluh sembilan wajah, dan memiliki kemungkinan iman dari satu wajah saja, maka saya akan memenangkan kemungkinan imannya atas dasar ḥusnu aż-żann.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar