Selasa, 24 Februari 2015

BANSER & TNI Siap Hadapi Australia Ataupun Brasil

http://banserx25.blogspot.com/2014/12/CARA-JUAL-PULSA.html
Ketum GP Anshor Nusron Wahid dan Jenderal Moeldoko berjabat tangan (foto; jpnn)
Polemik pernyaataan Panglima TNI Jenderal Moeldoko yang menyindir Barisan Ansor Serbaguna (Banser) saat sidak di Batalyon Infanteri (Yonif) 752/Vira Yudha Sakti di Jalan Basuki Rahmat KM 10, Kabupaten Sorong Papua Barat berakhir sudah. Kini TNI dan Banser kembali bergandengan tangan, bersama-sama memperkuat kerja sama dan sinergitas secara konsisten untuk memperkuat pertahanan dan keamanan NKRI, salah satunya dengan cara memberi pelatihan bela negara kepada Banser untuk mengantisipasi adanya rongrongan kedaulatan negara dari pihak asing.
Sebelumnya Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko yang melakukan Inspeksi Mendadak di Batalyon Infanteri (Yonif) 752/Vira Yudha Sakti dengan tujuan untuk melihat secara langsung kesiapan dan kedisiplinan para prajurit TNI yang berada di Batalyon tersebut dalam menghadapi tugasnya di daerah perbatasan, mengatakan bahwa saat ini ada kecenderungan disiplin prajurit semakin merosot. Kalau prajurit TNI sudah tidak memiliki disiplin maka mereka sama saja dengan Banser, hal itu akan sangat membahayakan karena prajurit TNI dilengkapi senjata. (Agus Maryono; kompasiana)
Kompasianer Agus Maryono dalam artikelnya yang berjudul Kritikan Pedas Jenderal Moeldoko Terhadap Banser tidak menampik adanya ketidak disiplinan (sebagian) anggota Banser. Kritikan ini belum tentu tentu sebagai bentuk kebencian, bahkan bisa sebaliknya, saking cintanya kepada Banser di Republik ini. Bisa jadi karena Pak Moeldoko melihat posisi Banser itu penting namun sayangnya kurang disiplin dalam menjalankan tugas sehingga perlu diingatkan. Hanya saja kritikan itu sempat membuat banyak anggota Banser yang tersinggung seolah-seolah tidak dihargai dan dipandang sebelah mata oleh TNI.
Salah seorang petinggi elit Banser, Khotibul Umam Wiranu, yang juga politisi Demokrat di DPR RI, sempat angkat bicara. Ia mempertanyakan kritikan Moeldoko itu dan balas mengkritik dengan pertanyaan, apakah Pak Moeldoko pernah ikut berperang melawan penjajah sehingga berani merendahkan Banser? Padahal selama ini TNI dan Banser nyaris tidak pernah bergesekan. Kenapa pula Banser yang menjadi contoh, bukan satgas lainnya? Sejak dulu hingga sekrang banyak anggota Banser yang secara sukarela turun tangan ikut mengamankan negaranya.
Bahkan peristiwa 10 November 1945 di Surabaya, Banser berperan sangat aktif dan menempati posisi pening dalam memimpin pasukan rakyat melawan pasukan sekutu dalam perang 10 November itu. Banser bertempur habis-habisan mengusung semangat Jihad dengan berbekal restu para Kyai NU dan senjata seadanya ketika itu. Dua jenderal terbaik Inggris sebagai pemimpin Sekutu tewas ketika itu berikut puluhan ribu tentara terlatihnya oleh Banser, santri dan rakyat Surabaya. Presiden Soekarno saja ketika itu tidak berani melawan sekutu karena secara matematis TNI tidak akan mungkin menghadapi Sekutu yang senjatanya sangat lengkap.
Namun tidak dengan Banser yang dengan semangat Ikhlas menjalankan keputusan Resolusi Jihad NU saat itu pantang mundur menghadapi tentara Sekutu. Tiga Minggu pertempuran Surabaya berlangsung, sekitar 50 ribu pasukan sipil (Banser, TKR, Rakyat Surabaya) menjadi syuhada melawan penjajah. Sejarah membuktikan bahwa Banser NU telah mampu mempertahankan kemerdekaan Indonesia saat itu dalam pertempuran 10 November. Tanpa Resolusi Jihad NU, tanpa kobaran semangat Jihad Banser , tidak akan pernah ada peristiwa heroik 10 November di Surabaya. Jadi wajar saja jika Banser tersinggung dengan sindiran Moeldoko itu.
Jika benar Banser banyak tidak disiplin, bukankah akan lebih baik Pak Moeldoko mendekati Ketua Umum GP Ansor, Nusron Wahid dan menawarkan pelatihan gratis bagi Banser, mengingat Banser selama ini bekerja dan bertugas menjalankan visi-misinya di antaranya, NKRI Harga Mati tidaklah dibayar negara. Mereka ikhlas demi rasa cinta Tanah Air yang merupakan bagian dari Ideologi Aswaja milik NU. Dan alhasil, TNI dan Banser berdamai, kembali bergandengan tangan dan pelatihan dimaksud akhirnya terlaksana juga, 120 pimpinan Banser mengikuti Kursus Banser Pimpinan (Susbanpim) di Markas Besar TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, yang telah dilaksanakan pada Senin (23/2).
”Sinergitas TNI dan Banser ini luar baiasa. Negara lain kalau tahu TNI dan Banser bersinergi akan menakutkan,” kata Panglima TNI Jendral Moeldoko saat menutup acara Kursus Banser Pimpinan (Susbanpim) angkatan Ke 2, di Aula Gatot Subroto, Mabes TNI, Jakarta. Moeldoko mengingatkan, kekuatan sistem pertanahan negara Indonesia terbangun melalui sinergi semua elemen masyarakat.  Hal ini secara gamblang disebut dalam UUD 1945 tentang kekuatan rakyat semesta. Ketentuan inilah yang kemudian diterjemahkan dalam undang-undang tentang sistem pertahanan semesta, yang berarti negara menggerakkan semua sumber daya semesta untuk pertahanan.
”Ada mobilisasi dan demobilisasi. Terkait ini, Ansor dan Banser bisa setiap saat bergerak bahu-membahu dengan TNI. Ansor kita lempari (diberi) senjata langsung bergerak. Kalau sinergi berjalan baik, semua negara akan mikir karena negara kita kuat,” imbuhnya sebagaimana dilansir smcetak. Nah, Australia dan Brasil juga harus mikir, jangan sembarangn melecehkan Indonesia apalagi bermaksud merongrong kedaulatan NKRI.
Ketua Umum GP Ansor Nusron Wahid mengaku sangat berterima kasih atas sinergi dan pelatihan yang diberikan TNI. Bagi Banser, menjaga kedaulatan negara adalah doktrin yang sudah ditanamkan sejak awal. Nusron juga mengingatkan bahwa Banser siap jika sewaktu-waktu diminta TNI untuk bahu-membahu menjaga negara. Bagi Ansor, mendukung kekuatan TNI adalah keharusan karena ini menjadi simbol kekuatan negara (lihat kompas), termasuk bersiap siaga menghadapi rongrongan kedaulatan negara dari pihak asing, seperti Australia dan Brasil tentuny.

Sumber : www.kompasiana.com